Langsung ke konten utama

Postingan

Beli Kiloan

Saya jarang stok roti/snack di rumah. Mengapa? Karena jika ada roti di rumah, anak-anak pasti lebih memilih roti dibanding makan nasi. Lagi pula, roti bukanlah kebutuhan. Jika memang lapar, ya lebih baik makan nasi.
Namun, terkadang kita mesti mendadak beli snack karena ada tamu yang bertandang ke rumah. Nah, agar lebih hemat, saya memilih snack kiloan yang dijual di pasar. Dibanding snack yang kemasan kecil, snack kiloan jauh lebih murah.
Selain lebih hemat anggaran, snack kiloan juga lebih hemat dalam penggunaan plastik. Misalnya kalau saya beli makaroni setengah kilo, itu hanya butuh bungkus plastik satu saja. Sementara, kalau beli makaroni kemasan, tidak ada yang setengah kiloan. Adanya yang 200 gram. Jadi, mau nggak mau saya harus beli dua atau tiga bungkus plastik.
Bagi saya, cerdas finansial mesti didukung juga dengan kepedulian terhadap lingkungan. Saya memang belum bisa lepas 100% dari plastik, tapi saya berupaya mengurangi penggunaan plastik secara bertahap. Mulai dari memb…
Postingan terbaru

Bingkisan Perekat Persaudaraan

Setiap bulan, keluarga kami menyisihkan sebagian rejeki untuk tetangga sekitar. Selain berwujud uang, rejeki yang dibagikan juga ada yang berupa sembako. Seperti beras, minyak, gula pasir, teh dan telur.
Kemarin saat saya sedang menata sembako, anak-anak melihat ada susu dan energen yang tergeletak di meja. “Bun, minta susu ini,” pinta Saka, sambil mengangsurkan susu kaleng warna putih. “Ini susu untuk Mas Parno. Jangan dibuka!” Saya melarang anak-anak membuka kaleng. “Halaaaah. Aku mana?” Saka protes. “Susu adek yang susu bubuk kae, lho!” Saya menunjuk stoples berisi susu bubuk coklat. “Emoh! Aku pengen ini,” rengek Saka. Saya menghela napas. Belum selesai mengatasi satu anak, terdengar rengekan anak satunya. “Aku susu yang warna coklat ini, Bun,” pinta Reksa. “Itu susu untuk Mas Parno,” jawab saya singkat. “Yo wis, aku yang ini aja, Bun,” Reksa mengambil rentengan sachet energen warna hijau. “Itu juga punya Mas Parno.” “Halaaaah, kok semua milik Mas Parno? Aku mana?” Kini giliran …

Tidak Harus Sama

“Bun, minta uang untuk infaq,” pinta Reksa sebelum berangkat ke sekolah. Setiap hari Jumat, anak-anak TK diajak belajar berbagi (infaq) di sekolah. “Oh, ya.” Saya masuk ke dalam rumah untuk mengambil dompet. Saya mencari uang lima ribuan, tetapi tidak ada. Saya coba membuka dompet ayah. Berharap menemukan lembaran warna coklat. Ternyata tidak ada juga. Akhirnya, saya mengambil uang dua ribuan tiga lembar. Saya serahkan uang tiga lembar tersebut pada Reksa.
“Kok tiga, Bun?” Reksa heran saat menerima uang tersebut. “Iya. Bunda tidak punya uang lima ribuan. Jadi, Mbak infaq dua ribuan tiga, ya.” Reksa mengamati lembaran uang itu. “Satu aja gapapa, Bun. Temanku kebanyakan infaqnya yang kayak gini. Satu tok.” “Ya, biar saja yang lain satu. Mbak Reksa infaqnya tiga.” “Kok tiga, Bun?” tanya Reksa kebingungan.
Saya diam sejenak. Memikirkan jawaban yang pas atas pertanyaan Reksa. “Mbak kalau dikasih uang banyak seneng nggak?” Saya memulai jawaban dengan membuka pertanyaan terlebih dahulu. …

Menabung dan Tanggung Jawab Reksa

Bagi keluarga kami, semua hal yang berkaitan dengan sekolah adalah tanggung jawab anak. Saya sebagai ibu hanyalah memfasilitasi saja. Seperti mengantar jemput, memastikan bekal makanan selalu tersedia dan menyiapkan uang untuk menabung maupun infak. Konsekuensi dari hal ini, anak mau nggak mau harus pandai memanajemen dirinya sendiri. Jika tidak, dia sendiri yang akan menanggung akibatnya.
Contoh kasus, perihal menabung. Jadwal menabung di sekolah adalah hari senin dan kamis. Bunda akan menyiapkan uangnya jika Reksa meminta pada Bunda di pagi harinya. Jika Reksa tidak meminta, Bunda juga tidak menyiapkannya. Pada suatu hari Reksa bilang bahwa tadi saat sekolah dia lupa tidak menabung. “Bunda ki pasti lupa. Tadi tu harusnya nabung, Bun. Kan hari Senin,” protes Reksa. “Ya kan Mbak Reksa nggak minta. Ya Bunda juga nggak ngasih. Lagian Mbak Reksa kan tau kalau Bunda sering lupa. Jadi, Mbak Reksa yang harus mengingatkan Bunda,” timpal saya. “Ya udah, Bun. Saya minta uang sekarang buat nabu…

Masyarakat Cerdas Finansial

“Reksaaaa, aku bareng, ya.” Sebuah suara memanggil dari seberang jalan. Reksa yang sedang berjalan ke arah saya pun menoleh. “Ya. Ayo, Mbak Put!” Teman yang dipanggil pun setengah berlari mengejar Reksa, hingga keduanya jalan berjejeran. Tak lama kemudian mereka sudah berada di samping motor saya. “Mbak Putri mau bareng?” Saya bertanya untuk memastikan. “Iya, Bun.” “Ya. Sini tas-nya Mbak Reksa dibawa Bunda aja.” Reksa mengangsurkan tasnya dan kemudian duduk di jok belakang bersama Putri. Selain saya dan kedua anak ini, masih ada Saka di jok depan. Jadi, total semuanya ada empat orang. Satu dewasa dan tiga anak. Hehehe..
Dari awal Reksa sekolah, saya memang sering menawarkan boncengan sama teman Reksa yang belum dijemput. Alasan mendasar dari pilihan tindakan saya ini adalah efisiensi. Dengan memboncengkan teman Reksa, saya ikut membantu menghemat waktu, biaya dan tenaga ibu anak tersebut. Memang perjalanan saya agak muter dikit. Tapi itu lebih baik daripada si ibu anak itu mesti keluar…

Hemat Listrik

Sehabis lari keliling alun-alun, ayah minta dibuatkan es teh. Saya pun mengambil gelas dan beranjak ke rumah lama. Kebetulan kulkas keluarga kami lberada di rumah lama karena tidak cukup jika ditaruh di rumah baru.
Sesampainya di depan kulkas, saya kaget karena freezer tidak ditutup rapat. Sewaktu saya cek kondisinya, ternyata semua es yang ada di dalamnya sudah mencair. Tidak ada satupun es yang membeku. Bahkan kulkas yang biasanya anteng, saat itu berbunyi cukup keras. Itu tandanya, kulkas sedang membutuhkan energi yang besar untuk mendinginkan freezer yang terlanjur kebuka pintunya.
Saya pun kembali ke rumah. Bilang sama ayahe perihal ini. “Kayake yang terakhir kali nutup ki Saka,” ucap Ayah mengingat kejadian hari sebelumnya. “Pas Saka le nutup banter banget kae, lho.” “Oh. Pas kae to?” Saya lupa-lupa inget persisnya. Hanya mengingat suara kulkas dibanting keras sekali. Saya kemudian mendekati Saka. “Besok lagi kalau nutup pelan saja, ya. Kalau banter-banter malah jadinya nggak nut…

Mengapa Tidak Boleh Jajan Tiap Hari?

Malem minggu kami sekeluarga berniat makan di luar. Berhubung tidak begitu lapar, kami memilih Endy Steak sebagai tempat makan malam kami. Tahu bahwa kami akan makan di luar, anak-anak langsung antusias. Hahaha.. Maklumlah, sehari-harinya hampir 24 jam kami di rumah. Bisa keluar malam sembari makan di luar, menjadi sebuah hal yang menakjubkan bagi kami.
Sesampainya di lokasi, anak-anak langsung minta dibelikan milkshake. Awalnya, Saka minta yang rasa strawberry dan Reksa minta rasa coklat. Tentu saja mereka akan minta tanpa pertimbangan seberapa besar perut mereka. Saya pun meminta satu saja untuk berdua. Jadilah, anak-anak pesan yang rasa coklat.
Untuk makanan, anak-anak memilih sendiri paket happy yaitu paket manakan yang berisi kentang, sosis, nuget dan sayuran. Sementara saya dan ayah memilih steak kesukaan kami masing-masing. Setelah menunggu lima belas menit, minuman pun datang lebih awal. Sementara menunggu makanan datang, kami berbincang santai.
“Mbak, ngopo kok ayah melarang …